Archive for the 'Articles' Category

Hidup berdampingan dengan ROTAVIRUS

Tuesday, July 1st, 2008

By : ibuke Nisa

 

Rotavirus

Winter di negara 4 musim identik dengan kemunculan virus-virus antara lain rotavirus penyebab diare pada balita. Panas, muntah adalah awal terjadinya infeksi rotavirus.

Sebelum tahun 1970an, setiap kasus diare terjadi dokter selalu menganggap penyebabnya adalah bakteri. adanya penemuan antibiotic ternyata tidak mampu menurunkan angka kematian bayi dan balita akibat diare di seluruh dunia masa itu. Mulailah para ilmuwan mencoba menemukan apa sebenarnya mikroorganisme penyebab diare tersebut. sesungguhnya di tahun 1943 Jacob Light dan Horace Hodes secara tak sengaja menemukan suatu material yang tersaring dari feses anak-anak yang terserang diare, yang saat itu juga menyebabkan diare pada ternak. Barulah pada tahun 1973 ilmuwan Australia menemukan mikroorganisme yang kemudian dikenal dengan nama Rotavirus, pada feses anak-anak penderita diare di Australia. Sejak itu, Ruth Bishop bekerja keras memberantas Rotavirus di Australia.

Barulah di tahun 1974 Thomas Henry Flewet mengusulkan nama virus penyebab diare ini : ROTAVIRUS, setelah melihat bentuk virus tsb berupa roda (Rota dalam bahasa Latin berarti roda), dan disetujui oleh komite taksonomi virus pada tahun 1978.Rotavirus serotype baru ditemukan pertama kali pada tahun 1980, setahun kemudian dapat ditumbuhkan rotavirus dari manusia pada media kultur sel, dan urutan RNAnya baru dipublikasikan secara penuh di Nature tahun 1995.


Infeksi Rotavirus di dunia

Pada tahun 2004 WHO melaporkan telah terjadi sebanyak 527.000 kematian balita karena diare rotavirus di seluruh dunia. Rotavirus A merupakan penyebab 90% terjadinya diare pada manusia. Rotavirus juga pernah dilaporkan menyebabkan kematian akibat diare pada hewan ternak seperti kambing, sapi, babi, ayam dan itik bahkan kelinci dan kuda. laporan terbaru menyebutkan setiap tahun di Negara berkembang terjadi 2 juta kasus diare balita karena rotavirus berakhir dengan 611.000 kematian balita. Bahkan di Negara maju seperti Amerika, tiap tahun terjadi setidaknya 2,7 juta diare rotavirus, berakhir dengan 60.000 penderita dirawat di rumah sakit dan 37 balita dilaporkan meninggal karenanya. Pada tahun 1981 terjadi kasus besar/kejadian luar biasa (KLB) diare rotavirus di Colorado akibat tercemarnya air dengan feses yang mengandung rotavirus. Di tahun 2005 terjadi lagi kasus KLB di banyak Negara. Berikut angka kematian akibat diare rotavirus di beberapa Negara di tahun 2006 dan 2007.

Negara

Angka kematian

Tahun pelaporan

Vietnam

1 dari 61 hingga 113 kasus

2006

Bangladesh

1 dari 390 hingga 660 kasus

2007

Venezuela

1 dari 1800 kasus

2007

Uni eropa

1 dari 20.433 kasus

2006

Amerika

1 dari 21.675 kasus

2007

Australia

1 dari 115.000 kasus

200

 

Bahaya Rotavirus
Rotavirus menyerang pemasakan endocytes pada vili usus halus, menyebabkan kerusakan pada vili usus tersebut sehingga menghambat proses pencernaan dan absorpsi sari makanan. Akibat tidak tercernanya dan tidak terserapnya sari makanan dan air oleh usus, maka terjadilah diare sangat encer. Selain itu rotavirus menyebabkan muntah dan panas (diatas 38ºC). Bahaya utama infeksi rotavirus adalah terjadinya dehidrasi dan shok hingga memudahkan terjadinya kematian. Dibanding dengan infeksi bakteri, infeksi rotavirus lebih berbahaya karena selalu dimulai dengan muntah yang memicu dehidrasi awal, diikuti dengan diare sangat encer dan sering memperparah dehidrasi selanjutnya.

Infeksi rotavirus terjadi setidaknya pada 3 bulan pertama usia bayi. di Negara berkembang dimana sanitasi buruk, 2 bulan pertama kehidupan bayi diwarnai dengan diare akibat rotavirus ini. Laporan WHO menyatakan ¾ anak di Negara berkembang pernah mengalami diare rotavirus ini di saat umurnya kurang dari 1 tahun. Sedangkan di Negara maju, biasanya rotavirus menyerang pada anak usia 2-5 tahun.

Waktu terjadinya

Winter adalah masa terbaik inkubasi rotavirus. Kasus infeksi rotavirus di Negara dengan 4 musim terjadi selama winter. Biasanya menyerang anak di childcare, anak usia sekolah dan para lansia di aged care. Di Negara tropis, sepanjang tahun dapat terjadi infeksi rotavirus ini.

Cara penularan

Penularan rotavirus yang utama melalui feses penderita yang masuk secara oral. Tangan yang terkontaminasi setelah BAB adalah sumber penularan utama. Selain itu muntahan penderita juga menjadi sumber penularan bagi anggota keluarga atau teman-teman childcare/sekolah. Juga bahan atau alat yang tercemar muntahan penderita perlu dicermati sebagai sumber penularan, maka harus dicuci bersih.

Obat

Tidak ada obat bagi diare rotavirus. Diare karena bakteri dapat diobati dengan antibiotic (contoh diare amuba dengan metronidazol, diare karena shigella diobati dengan cotrimoksasol, diare karena kolera diobati dengan tetrasiklin atau doksisiklin), sedangkan diare karena rotavirus tidak ada obat antivirus yang mampu mengobatinya. Oleh karena itu hal terpenting adalah melakukan pencegahan dengan imunisasi rotavirus pada anak berumur 2 hingga 6 bulan. Bila terlanjur terjadi diare rotavirus maka tindakan utama mencegah kematian adalah dengan memberikan upaya rehidrasi/penggantian cairan tubuh dan elektrolit baik secara oral maupun intravena. Kalau bayi masih minum ASI makan jangan hentikan pemberian ASI. oralit baik buatan pabrik maupun bikinan sendiri (larutan gula garam) merupakan cara ampuh menangkal kematian akibat diare rotavirus.

 

Vaksin rotavirus
Sejak tahun 1990an marak upaya pembuatan vaksin rotavirus. Salah satunya adalah RotaShield yang pernah diluncurkan di Amerika pada tahu 1990an. Namun di tahun 1999 vaksin tersebut ditarik dari pasar oleh FDA karena terbukti menimbulkan efek samping bowel sindrom berbahaya. Barulah di tahun 2004 diluncurkan human monovalen dan pentavalen vaksin rotavirus di Negara Amerika Latin, Uni Eropa, Amerika dan Australia yakni RotaRix (GlaxoSmithKline) dan RotaTeq (Merck). Namun WHO merasa belum merekomendasikan imunisasi ini di Negara berkembang mengingat akan tidak berhasil hanya mengandalkan imunisasi rotavirus sementara sanitasi sebagai sumber penularan utama diare rotavirus masih buruk.

Keamanan dan efikasi kedua macam vaksin yang diberikan secara oral tsb telah terbukti berkisar 74-85% berdasarkan clinical trial di negara Amerika Latin, Uni Eropa dan Amerika. Baik RotaRix maupun RotaTeq tidak mengandung bahan pengawet thimerosal yang diduga menjadi penyebab autisme pada balita.

Sejak Juli 2007 imunisasi rotavirus wajib diberikan pada bayi hingga umur 6 bulan bagi semua bayi yang lahir setelah Mei 2007 di seluruh Negara bagian di Australia.

Kabar terbaru yang membahagiakan dating dari Prof Ruth Bishop (Royal Children Hospital, Melbourne) yang bekerjasama dengan peneliti dari UGM yakni Prof Yati Soenarto yang pernah melakukan penelitian diare rotavirus di Yogyakarta, mulai tahun lalu menjajaki pembuatan vaksin rotavirus baru dengan PT Indofarma yang rencananya akan dipasarkan di Indonesia dan Negara Asia lainnya pada tahun 2011

 

Vitamin D dan Winter

Saturday, May 17th, 2008

 Oleh : Bu Ika

Sejak sebulan ini, saat autumn akhir dapat kita ketahui adanya penurunan UV index di Victoria. Dari saat akhir summer hingga awal autumn, UV indek masih berkisar 3-5 (summer = 6-7 hingga lebih), namun sekarang ini hanya berkisar 2. artinya dengan uv indek yang sangat rendah akan juga berdampak pada kesehatan khususnya di Negara-negara belahan Selatan seperti Australia ini. Memang sungguh serba sulit keadaan di Negara-negara di Southern hemisphere ini, saat summer Uv indek sangat tinggi hingga menimbulkan tingginya resiko kanker kulit. Namun saat musim beralih di mana lama pancaran sinar matahari hanya berkisar 8-10 jam saja, maka rendahnya UV indek juga berdampak pada masalah kesehatan.

                                         

UV indek yang rendah menurunkan biosintesis provitamin D menjadi vitamin D yang aktif untuk berbagai proses dalam tubuh. Karena adanya sinar UV mutlak diperlukan bagi biosisntesis vitamin ini. Begitu tubuh membuat vitamin D atau adanya masukan /asupan vitamin D dari makanan, maka hati dan ginjal akan mengubah vitamin D menjadi 1,25-dihidroksi-vit D yang merupakan bentuk aktif dari vitamin D. Proses perubahan tsb membutuhkan UV yang akan melakukan photohydrolized dari provitamin D (7-dehidrokolesterol yang tersimpan di bawah epidermis kulit).

 

Bentuk aktif dari vitamin D akan beredar bersama aliran darah ke seluruh tubuh, memasuki reseptor khusus vitamin D (VDR) yang terdapat di otak, jantung, kulit, organ reproduksi, payudara dan prostate. Vitamin D aktif ini berperan dalam pemeliharaan kadar fosfor dan calcium dalam darah dan juga tulang. Selain itu berperan dalam mekanisme kerja hormone paratiroid dan proses imunitas dalam sel darah putih/lekosit, sel B dan T.

 

Negara-negara yang sempat mengalami penurunan uv mengalami peningkatan resiko terjadinya penyakit rakhitis akibat defisiensi vit D dan osteoporosis. Adanya kampanye pemakaian sun block dalam rangka penurunan resiko kanker kulit, juga turut memperparah kondisi kekurangan vit D ini. Karena sun block menghambat masuknya UV ke kulit dan akhirnya mengganggu biosintesis vit D dalam tubuh. Oleh karena itu memasuki musim gugur, pemakain sun block dihindarkan toh uv indeks juga sangat rendah saat autumn hingga winter.

 

Selain mengandalkan masuknya uv walau hanya rendah saja, Negara-negara belahan selatan mengkampanyekan peningkatan asupan vit D dari makanan. Banyak produk makanan diperkaya dengan vit D (fortified) seperti dalam susu, yogurt, cereal, margarine, spread, grain. Selain itu diseyogyakan mengkonsumsi sumber-sumber vit D alami dari berbagai ikan (salmon, sardine, makarel, tuna, eel), jamur, telur bahkan minyak ikan Cod (dalam bentuk kapsul). Dengan meningkatnya asupan vitamin D ini diharapkan akan mengurangi osteoporosis/memperlambat prosesnya dan menjaga imunitas tubuh.

 

Tips winter :

  • makan banyak sumber vit D
  • tdk perlu memakai sunblock sepanjang hari
  • karena kelembaban rendah, tetap memakai pelembab baik siang maupun malam untuk kulit
  • jangan lupa selalu memakai lip gloss tanpa sunblock sepanjang hari, bisa dilakukan berkali-kali selagi terasa kering.

BAY LEAF samakah dengan daun salam?

Sunday, March 23rd, 2008

Oleh : ibuke Bogi

Masakan Indonesia tak bisa lepas dari daun salam sebagai penambah aroma khas. Tum, bumbu urap matang, sayur lodeh, garang asem, gadon, opor, dan bubur beras rasanya tak mantap tanpa daun salam. Di Australia ini daun salam diterjemahkan sebagai bay leaf, namun tidak semua bay leaf ternyata adalah daun salam seperti yang orang Indonesia maksudkan. Bila kita membeli bay leaf, dengan mudah kita bisa membedakan apakah itu daun salam yang kita maksud atau bay leaf yang lain. Namun tak jarang kita kecewa karena penjual tetep ngotot yang dijual bay leaf, namun setelah kita pakai memasak aroma yang kita bayangkan seperti daun salam ternyata tak muncul dan bikin kecewa….

Daun salam adalah Indonesian bay leaf. Nama latinnya Syzygium polyanthum atau Eugenia polyantha. Bentuk daunnya sangat khas, dengan bau mirip jambu karena memang tergolong keluarga jambu-jambuan (Myrtaceae). Sementara bay leaf dalam dunia kuliner Barat adalah daun Laurus nobilis yang hanya akan memberikan bau yang kuat setelah daun dikeringkan. Tanaman ini berbeda keluarga dengan daun salam. Laurus nobilis adalah keluarga Lauraceae, daunnya lancet lebih kecil dibanding daun salam. Struktur daun lebih kuat sehingga setelah dikeringkan tidak mudah koyak, tidak seperti daun salam yang mudah koyak dan berubah warna coklat tua bila terlalu lama dikeringkan. Bay leaf Laurus ini asalnya dari mediteran, dan banyak mempengaruhi gaya kuliner dunia barat. Setelah dikeringkan (walau agak lama) warna daun tetap coklat cerah dan muda. Bay leaf inilah yang mendominasi dan dipasarkan di Australia karena memang sangat mudah tumbuh di sini. Aroma yang dihasilkan bay leaf ini tidak sekuat dan segurih daun salam.

Daun Salam

Daun Salam

Bay Leaf Laurus

Bay Leaf Laurus

 

 

Masih ada bay leaf lain yang dipasarkan di banyak Negara, yakni Indian bay leaf yang nama Latinnya Cinnamomum tejpata. Tanaman ini keluarga Lauraceae. Aroma yang dihasilkan mirip daun kayu manis. Karena memang satu keluarga dengan kayu manis/cinnamom, maka bentuk daun adalah type daun kayu manis dengan tulang daun bukan menyirip, tapi sejajar.

 

 

Indian bay leaf

Di Indonesia terutama masakan dari Aceh yang terpengaruh budaya India, mengenal daun salam lainnya yang dikenal dengan nama Salam koja. Baunya sangat khas, bentuk daunnya seperti daun kedondong atau daun mimba (neem leaf). Salam koja ini sesungguhnya adalah Muraya koenigii tanaman keluarga Rutacea (jeruk-jerukan, seperti kemuning). Di sini daun salam koja dapat tumbuh subur dan juga dijual baik segar maupun kering popular dengan nama Curry leaf karena memang menjadi bumbu wajib masakan kari dan masakan India lainnya.

Curry leaf

 

 

Jika terpaksanya tidak ada daun salam, maka bolehlah bay leaf Laurus menjadi penggantinya daripada sama sekali tidak ada penambah aroma untuk sayur lodeh, bubur, tum, dll. Namun jangan salah, daun salam tidak bisa digantikan dengan salam koja atau Curry leaf untuk masakan non kari jika tidak ingin aromanya rusak.

Fitofarmaka

Daun salam Indonesia terkenal sebagai obat penurun kadar gula darah dan tekanan darah, namun bay leaf Laurus lebih sebagai anti radang. Curry leaf dikenal sebagai antiinfeksi.

Met masak-masak….

 

Makan Kesemek (Persimmon), siapa takut ???

Sunday, March 23rd, 2008

Oleh : ibuke Bogi

 

 

Kesemek atau Persimmon (Dyospyros) sudah dikenal lama di seluruh Asia termasuk Indonesia. Buah berwarna hijau kekuningan seperti berbedak makin jarang dijual di pasar tradisional di Indonesia. Penampilan yang dinilai kurang menarik, mengurangi minat masyarakat untuk mengkonsumsi kesemek. Namun, di musim gugur di Negara beriklim 4 musim seperti Australia ini, kesemek yang popular dengan nama persimmon ini menghiasi pasar dan took buah, dengan warna kuning oranye ranum menggoda selera.

Buah yang nama Latinnya Dyospyros yang berarti buah para Dewa ini sungguh sesuai dengan namanya. Kesemek berbuah saat musim gugur tiba, dengan berbagai varietas yang dikembangkan maka buah ini menjadi andalan bisnis ekspor dan impor buah di Negara Australia, jepang, Korea, Cina bahkan Amerika. Perdagangan persimmon ini bahkan telah terekam dalam perjalanan Maro Polo di abad 14 di Cina.

Buah asli Jepang, Cina dan Birma ini memiliki 2 macam jenis besar, yakni yang sepet (seperti salak) dan yang manis. Yang dikembangkan di banyak Negara adalah jenis yang manis, bervariasi seperti Dyospyros Fuju dan Hichiya yang asalnya dari Jepang dengan bentuk agak lonjong dan D.kaki yang bentuknya bulat. Keduanya sama-sama memberikan rasa manis, tidak sepet walau belum begitu matang. Warna buah ini kuning oranye. Buah ini bisa langsung dimakan tanpa dikupas, baik yang masih agak keras maupun yang sudah agak lembek. Buah persimmon mulai dikembangkan di Australia sejak tahun 1982, mulailah saat itu persimmon mewarnai autumn di Australia. Persimmon Australia ternyata menjadi andalan ekspor ke Malaysia, Singapura, Thailand. Jepang dan Hongkong. Salah satu daerah penghasil persimmon di Australia adalah di daerah-daerah sebelah utara Brisbane.

Nutrisi

Sesuai dengan warna buah ini, maka ditemukan kandungan vitamin A, beta karoten di dalamnya. Juga kandungan kalium sangat tinggi serta kadar serat yang 2 kali lipat lebih tinggi dibanding apel, memberi nilai tambah untuk mengkonsumsi buah ini. Dalam buah ini ditemukan adanya senyawa anti kanker yakni asam betulinat, katekin dan epigalokatekin (seperti dalam teh). Namun ditemukan juga senyawa shibuol (pada buah mentah) yang jika dikonsumsi secara berlebihan akan menyebabkan diare.

Jadi jangan lupa belanja persimmons saat autumn, karena harga sedang murah dan menyehatkan. Bahkan buah yang masak dan lunak dengan rasa manis yang menggiurkan malah dijual dengan harga paling murah, karena tampaknya masyarakat di sini lebih menyukai persimmon yang masih agak keras, dijual lebih mahal.

Penelitian di Korea menyatakan bahwa konsumsi persimmon menurunkan resiko ateroskerosis (penyebab penyakit jantung koroner). Di salah satu desa yang dikenal sebagai asal mula buah persimmons di jepang yakni di Okayama, banyak ditemukan para lanjut usia mencapai umur 100an tahun, yang salah satunya disebabkan konsumsi persimmon yang banyak mengandung senyawa antioksidan beta karoten ini.

Resep persimmon

Buah persimmon bisa dikonsumsi seperti apel dan stone fruit (nectarine, peach, plum, apricot), dibawa sebagai bekal makan siang atau jalan-jalan. Namun bisa juga dibuat manisan bagi yang tidak menghindari gula, atau ditambahkan dalam adonan roti (kue bolu, pancake). Juga tidak kalah menarik bikin rujak /lotis dengan buah persimmon, tomat, dan pear (rujak Australia nih ye).

Met nyoba…..

 

Kode Bahan Aditif

Monday, August 27th, 2007

Yang digaris bawah merah asalnya bias jadi dari telur, susu atau lemak hewan.

Misal: 153, 252, 270 dll.

100 - Curcumin or Turmeric (colouring)

101 - Riboflavin (colouring)

102 - Tartrazine (colouring)

103 - Alkanet (colouring)

104 - Quinoline yellow (colouring)

110 - Sunset yellow FCF (colouring)

120 - Caramines or Cochineal (colouring)

122 - Azorubine (colouring)

123 - Amaranth (colouring)

124 - Poceau 4R (colouring)

127 - Erythrosine# (colouring)

129 - Allura red AC (colouring)

132 - Indigotine (colouring)

140 - Chlorophyll (colouring)

141 - Chlorophyll-copper complex, Chlorophyllin copper complex, sodium, potassium salts (colouring)

142 - Food green S (colouring)

150 - Caramel (colouring)

151 - Brilliant Black BN (colouring)

153 - Carbon Black (colouring)

155 - Brown HT (colouring)

160a - beta-Carotene (colouring)

160 - beta-apo-8′ Carotenoic acid methyl ester (colouring)

160b - Annatto extracts (colouring)

160c - beta-apo-8′ Carotenal (colouring)

160f - beta-apo-8′ Carotenoic acid methyl or ethyl ester (colouring)

161 - Xanthophylls (colouring)

161b - Lutein (Colouring)
161c - Cryptoaxanthin (Colouring)
161d - Rubixanthin (Colouring)
161e - Violaxanthin (Colouring)
161f - Rhodoxanthin (Colouring)
161g - Canthaxanthin (Colouring)
162 - Beet red (colouring)

163 - Anthocyanins (colouring)

170 - Calcium carbonate (mineral salt, colouring)

171 - Titanium dioxide (colouring)

172 - Iron oxide (black, red, yellow) (colouring)

181 - Tannic acid (colouring)

200 - Sorbic acid (preservative)

201 - Sodium sorbate (preservative)

202 - Potassium sorbate (preservative)

203 - Calcium sorbate (preservative)

210 - Benzoic acid (preservative)

211 - Sodium benzoate (preservative)

212 - Potassium benzoate (preservative)

213 - Calcium benzoate (preservative)

216 - Propylparaben (preservative)

218 - Methylparaben (preservative)

220 - Sulphur dioxide (preservative)

221 - Sodium sulphite (preservative)

222 - Sodium bisulphite preservative)

223 - Sodium metabisulphate (preservative)

224 - Potassium metabisulphate (preservative)

225 - Potassium sulphite (preservative)

228 - Potassium bisulphite (preservative)

234 - Nisin (preservative)

235 - Natamycin (mould inhibitor)

249 - Potassium nitrite (preservative, colour fixative)

250 - Sodium nitrite (preservative, colour fixative)

251 - Sodium nitrate (preservative, colour fixative)

252 - Potassium nitrate (preservative, colour fixative)

260 - Acetic acid, glacial (food acid)

261 - Potassium acetate (food acid, acidity regulator)

263 - Calcium acetate (food acid)

264 - Ammonium acetate (food acid)

270 - Lactic acid (food acid)

280 - Propionic acid (preservative)

281 - Sodium propionate (preservative)

282 - Calcium propionate (preservative)

283 - Potassium propionate (preservative)

290 - Carbon dioxide (propellant)

296 - Malic acid (food acid)

297 - Fumaric acid (food acid)

300 - Ascorbic acid (antioxidant, flour treatment agent)

301 - Sodium ascorbate (antioxidant)

302 - Calcium ascorbate (antioxidant)

303 - Potassium ascorbate (antioxidant)

304 - Ascorbyl palmitate (antioxidant)

306 - Tocopherols concentrate, mixed (antioxidant)

307 - dl-alpha-Tocopherol (antioxidant)

308 - gamma-Tocopherol (antioxidant)

309 - delta-Tocopherol (antioxidant)

310 - Propyl gallate (antioxidant)

311 - Octyl gallate (antioxidant)

312 - Dodecyl gallate (antioxidant)

315 - Erthorbic acid (antioxidant)

316 - Sodium erythorbate (antioxidant)

319 - tert-Butylhydroquinone (antioxidant)

320 - Butylated hydroxyanisole (antioxidant)

321 - Butylated hydroxytoluene (antioxidant)

322 - Lecithin (antioxidant, emulsifier)

325 - Sodium lactate (food acid)

326 - Potassium lactate (food acid)

327 - Calcium lactate (food acid)

328 - Ammonium lactate (food acid)

329 - Magnesium lactate (acidity regulator, flour treatment agent)

330 - Citric acid (food acid)

331 - Sodium citrates (food acid)

332 - Potassium citrates (food acid)

333 - Calcium citrates (food acid)

334 - Tartaric acid (food acid)

335 - Sodium tartrates (food acid)

336 - Potassium tartrates (food acid)

337 - Potassium sodium tartrate (food acid)

338 - Phosphoric acid (food acid)

339 - Sodium phosphates (mineral salt)

340 - Potassium phosphates (minteral salt)

341 - Calcium phosphates (mineral salt, flour treatment agent)

342 - Ammonium phosphates (mineral salt)

343 - Magnesium phosphates (mineral salt)

349 - Ammonium malate (food acid)

350 - DL-Sodium malates (food acid)

351 - Potassium malates (food acid)

352 - DL-Calcium malates (food acid)

353 - Metatartaric acid (food acid)

354 - Calcium tartrate (food acid)

355 - Adipic acid (food acid)

357 - Potassium adipate (food acid)

365 - Sodium fumarate (food acid)

366 - Potassium fumarate (food acid)

367 - Calcium fumarate (food acid)

368 - Ammonium fumarate (food acid)

375 - Niacin (colour retention agent)

380 - Ammonium citrates (food acid)

381 - Ferric ammonium citrate (food acid)

385 - Calcium disodium ethyl-enediaminetetraacetate (sequestrant, preservative)

400 - Alginic acid (thickener and vegetable gum)

401 - Sodium alginate (thickener and vegetable gum)

402 - Potassium alginate (thickener and vegetable gum)

403 - Ammonium alginate (thickener and vegetable gum)

404 - Calcium alginate (thickener and vegetable gum)

405 - Propylene glycol alginate (thickener and vegetable gum)

406 - Agar (thickener and vegetable gum)

407 - Carrageenan (thickener and vegetable gum)

409 - Arabinogalactan (vegetable gum)

410 - Locust bean gum (thickener and vegetable gum)

412 - Guar gum (thickener and vegetable gum)

413 - Tragacanth (thickener and vegetable gum)

414 - Acacia (thickener and vegetable gum)

415 - Xanthan gum (thickener and vegetable gum)

416 - Karaya gum (thickener and vegetable gum)

420 - Sorbitol (artificial sweetening substance, humectant)

421 - Mannitol (artificial sweetening substance, humectant)

422 - Glycerin (humectant)

430 - Polyoxyethylene (8) stearate (Emulsifier) (Stabiliser)
431 - Polyoxyethylene (40) stearate (Emulsifier)
432 - Polyoxyethylene (20) sorbitan monolaurate (polysorbate 20) (Emulsifier)
433 - Polysorbate 80 (emulsifier)

435 - Polysorbate 60 (emulsifier)

436 - Polysorbate 65 (emulsifier)

440 - Pectin (vegetable gum)

441 - Gelatine (Emulsifier) (Gelling agent)
442 - Ammonium salts of phosphatidic acid (emulsifier)

444 - Sucrose acetate isobutyrate (emulsifier, stabiliser)

450 - Sodium and potassium pyrophosphate (mineral salt)

451 - Sodium and potassium tripolyphosphates (mineral salt)

452 - Sodium and potassium metaphosphates, polymeta-phosphates and polyphosphates (mineral salt)

460 - Cellulose, microcrystalline (anti-caking agent)

461 - Methylcellulose (thickener and vegetable gum)

464 - Hydroxypropyl methylcellulose (thickener and vegetable gum)

465 - Methyl ethyl cellulose (thickener and vegetable gum)

466 - Sodium carboxymthyl-cellulose (thickener and vegetable gum)

470 - Magnesium stearate (emulsifier, stabiliser)

471 - Mono- and di-glycerides of fatty acids (emulsifier)

472a - Acetic and fatty acid esters of glycerol (emulsifier)

472b - Lactic and fatty acid esters of glycerol (emulsifier)

472c - Citric and fatty acid esters of glycerol (emulsifier)

472d - Tartaric and fatty acid esters of glycerol (emulsifier)

472e - Diacetyltartaric and fatty acid esters of glycerol (emulsifier)

473 - Sucrose esters of fatty acids (emulsifier)

475 - Polyglycerol esters of fatty acids (emulsifier)

476 - Polyglycerol esters of interesterified ricinoleic acid (emulsifier)

477 - Propylene glycol mono- and di-esters (emulsifier)

480 - Dioctyl sodium sulphosuccinate (emulsifier)

481 - Sodium oleyl or stearoyl lactylate (emulsifier, stabiliser)

482 - Calcium oleyl or steroyl lactylate (emulsifier, stabiliser)

491 - Sorbitan monostearate (emulsifier)

492 - Sorbitan tristearate (emulsifier)

500 - Sodium carbonates (mineral salt)

501 - Potassium carbonates (mineral salt)

503 - Ammonium carbonates (mineral salt)

504 - Magnesium carbonate (anti-caking agent, mineral salt)

507 - Hydrochloric acid (acidity regulator)

508 - Potassium chloride (mineral salt)

509 - Calcium chloride (mineral salt)

510 - Ammonium chloride (flour treatment agent, mineral salt)

511 - Magnesium chloride (mineral salt)

512 - Stannous chloride (mineral salt)

514 - Sodium sulphate (mineral salt)

515 - Potassium sulphate (mineral salt)

516 - Calcium sulphate (flour treatment agent, mineral salt)

518 - Magnesium sulphate (mineral salt)

519 - Cupric sulphate (mineral salt)

526 - Calcium hydroxide (mineral salt)

529 - Calcium oxide (mineral salt)

535 - Sodium ferrocyanide (anti-caking agent)

536 - Potassium ferrocynaide (anti-caking agent)

541 - Sodium aluminium phosphate, acidic (acidity regulator, emulsifier)

542 - Bone phosphate (anti-caking agent)

551 - Silicon dioxide (anti-caking agent)

552 - Calcium silicate (anti-caking agent)

553 - Talc (anti-caking agent)

554 - Sodium aluminosilicate (anti-caking agent)

556 - Calcium aluminium silicate (anti-caking agent)

558 - Bentonite (anti-caking agent)

559 - Kaolin (anti-caking agent)

570 - Glucono delta-lactone (acidity regulator, raising agent)

572 - Magnesium stearate, calcium stearate (Emulsifier) (Anti-caking agent)
577 - Potassium gluconate (stabiliser)

578 - Calcium gluconate (acidity regulator, firming agent)

579 - Ferrous gluconate (colour retention agent)
585 - Ferrous lactate (Colouring)

620 - L-Glutamic acid (flavour enhancer)

621 - Monosodium L-glutamate (MSG) (flavour enhancer)

622 - Monopotassium L-glutamate (flavour enhancer)

623 - Calcium di-L-glutamate (flavour enhancer)

624 - Monoammonium L-glutatmate (flavour enhancer)

625 - Magnesium di-L-glutatmate (flavour enhancer)

627 - Disodium guanylate (flavour enhancer)

631 - Disodium inosinate (flavour enhancer)

635 - Disodium 5′-ribonucleotides (Flavour enhancer)
636 - Maltol (flavour enhancer)

637 - Ethyl maltol (flavour enhancer)
640 - Glycine and its sodium salt (Flavour enhancer)

900 - Dimethylpoly-siloxane (emulsifier, antifoaming agent, anti-caking agent)

901 - Beeswax, white and yellow (glazing agent, release agent)

903 - Carnauba wax (glazing agent)

904 - Shellac, bleached (glazing agent)

905a - Mineral oil, white (glazing agent)

905b - Petrolatum (glazing agent)

920 - L-Cysteine monhydrochloride (flour treatment agent)

925 - Chlorine (bleaching agent)

926 - Chlorine dioxide (bleaching agent)

928 - Benzoyl peroxide (bleaching agent)

941 - Nitrogen (propellant)

942 - Nitrous oxide (propellant)

950 - Acesulphame potassium (artificial sweetening agent)

951 - Aspartame (articifcial sweetening agent)

952 - Sodium cyclamate (articifcial sweetening agent)

953 - Isomalt (humectant)

954 - Saccharins (articifcial sweetening agent)

957 - Thaumatin (flavour enhancer, articifcial sweetening agent)

965 - Hydrogenated glucose syrup (humectant)

967 - Xylitol (humectant)

1100 - Amylases (enzyme-flour treatment agent)

1101 - Proteases (papain, bromelain, ficin) (enzymes-flour treatment agent, stabiliser, tenderizeer, flavour enhancer)

1102 - Glucose oxidase (enzyme-antioxidant)

1104 - Lipases (enzyme-flavour enhancer)

1105 - Lisozyme (enzyme-preservative)

1200 - Polydextrose (humectant)

1201 - Polyvinylpyrrolidone (stabiliser, clarifying agent, dispersing agent)

1202 - Polyvinylpolypyrrolidone (colour stabiliser, colloidal stabiliser)

1400 - Dextrin roasted starch (thickener and vegetable gum)

1401 - Acid treated starch (thickener and vegetable gum)

1403 - Bleached starch (thickener and vegetable gum)

1404 - Oxidised starch (thickener and vegetable gum)

1405 - Enzyme-treated starches (thickener and vegetable gum)

1410 - Monstarch phosphate (thickener and vegetable gum)

1412 - Distarch phosphate (thickener and vegetable gum)

1413 - Phosphated distarch phosphate (thickener and vegetable gum)

1414 - Acetylated distarch phosphate (thickener and vegetable gum)

1420 - Starch acetate esterified with acetic anhydride (thickener and vegetable gum)

1421 - Starch acetate esterified with vinyl acetate (thickener and vegetable gum)

1422 - Acetylated distarch adipate (thickener and vegetable gum)

1440 - Hydroxypropyl starch (thickener and vegetable gum)

1442 - Hydroxypropyl distarch phosphate (thickener and vegetable gum)

1450 - Starch sodium octenyl succinate (thickener and vegetable gum)

1505 - Triethyl citrate (foam stabiliser)

1518 - Triacetin (humectant)

1520 - Propylene glycol (humectant, wetting agent, dispersing agent)

  • Colourings - used to add or restore colour to foods.
  • Preservatives - used to stop food deteriorating due to the action of micro-organisms.
  • Antioxidants - used to stop foods such as fats going rancid.
  • Food acids - used to maintain a constant level of acid in foods.
  • Mineral salts - added to give texture and stability to foods such as processed meats.
  • Thickeners and vegetable gums - used to give uniform consistency.
  • Humectants - used to stop foods drying out.
  • Emulsifiers - keep fat distributed evenly through a food.
  • Anti-caking agents - used to make sure powdered foods don’t clog or clump together.
  • Artificial sweeteners - used to provide sweetness, and, in some cases, added bulk.
  • Flavour enhancers - used to strengthen flavours.
  • Bleaching agents - used at some stage in manufacturing a food to remove colour.
  • Glazes or waxes - used to give a shine to fruits.
  • Stabilisers - used to hold a foam or colour in food product.

 

Agustusan di Melbourne: Spectacular Garage Sale & Food Festival

Tuesday, August 21st, 2007

Yth. Bapak/Ibu Sahabat sekalian.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Puji syukur kepada Rabbi, salawat salam ke atas Nabi.

Menyusul pergelaran acara Agustusan di Melbourne yang diselenggarakan Monash Indonesian Islamic Society (MIIS) dalam bentuk Garage Sale, Food Festival, serta Perlombaan Anak-Anak dan Keluarga tanggal 11 Agustus 2007 lalu, bersama ini atas nama keluarga besar MIIS menyampaikan rasa terimakasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah berpartisipasi menyukseskan kegiatan tersebut. (more…)

Selamat Jalan P Eko Hariadi

Monday, March 26th, 2007

pic000091.jpg pic000093.jpg pic000092.jpg

Setelah beberapa minggu melalui masa-masa yang menegangkan, akhirnya hari ini, Senin 26 Maret 2007 jam 3.30 pm waktu bagian Caulfied, P Eko Hariadi (atau lebih dikenal dg P Gubernur) berhasil men-submit Thesis nya yang berjudul “Environmental Management and Decentralisation: the Case of Indonesia”

pic000090.jpg pic000089.jpg

Beliaupun tampak bahagia - a big relief, berpose bersama supervisor nya, Assoc Prof Ken Coghill.

P Eko Hariadi adalah birokrat yang pemikir, bekerja di Pemprov DKI Jakarta. Beliau datang ke Monash University, meneliti bagaimana pemerintah regional (kabupaten) melakukan inovasi-inovasi untuk pengelolan konservasi air dengan adanya otonomi daerah.

Membangun Harapan di Tahun Baru

Thursday, January 18th, 2007

Oleh Abu Raudha

Optimisme is the path that leads to achievement. Nothing can be done without hope and confidence (Helen Keller)

Barangkali tidak berlebihan kalau ada ungkapan ‘harapan adalah awal dari segalanya’, karena sepertinya memang hidup dan kehidupan ini dibangun di atas batu bata harapan. Tumpukan batu bata yang tersusun menjadi cita-cita dan impian tentang hari esok yang lebih baik. Dari sinilah kemudian sesungguhnya peradaban itu dimulai. Dari segumpal harap yang tumbuh dan berkembang menjadi bongkahan impian dan kemudian melahirkan berbagai bentuk bangunan peradaban yang menjadikan hidup lebih hidup. (more…)

Podcast: Ya Thaybah

Monday, October 16th, 2006

A Podcast from ODEO, featuring “Ya thaybah” by Hadad Alwi & Sulis:


powered by ODEO

Portable Applications

Sunday, October 1st, 2006

Jadul (jaman dulu), di era 80-an, program/software komputer tidak seperti sekarang, dimana software harus di install. Jadul, software komputer bisa dibawa-bawa pake disket (munking karena hard disk masih mahal). Program pengolah kata terkenal sebelum MS Word jaman itu adalah Wordstar. Untuk menjalankannya, cukup masukkan disket yang berisi program wordstar kemudian ketik “WS”, jalan. Program spreadsheet paling top saat itu adalah Lotus, tidak berbasis windows, menjalankannya pun cukup dari disket dan ketik “123″. Program bisa dibawa-bawa, tinggal cari komputer, masukin disket, ketik command prompt, beres.

Bagaimana sekarang? Ada, tinggal download berbagai applikasi gratis (bukan bajakan) dari PortableApps.com. Cocok bagi anda yang sering pakai public computer dan software yang dibutuhkan tidak ter-install.

MIIS is online

Sunday, October 1st, 2006

Assalamu’alaikum wr.wb

Setelah putar-putar cari hosting domain dan back-end technology yang gratisan, akhirnya MIIS sekarang punya web site. Design perdana dari web site ini adalah dengan konsep minimalis artinya menggunakan gambar/grafik seminimal mungkin dengan tujuan mempercepat waktu download. Selain itu kami berprinsip bahwa sebagus apapun design yang dipakai tidak akan berarti apa-apa kalau isinya tidak menarik. Betul?

Ya, content yang kaya dan menarik itulah (more…)