MEMPERKENALKAN JC DARI SUDUT PANDANG ISLAM
Oleh: Nuim Khaiyath
Khutbah Jum’at:
Westall 01-01-10
Sidang Jum’at yang dimuliakan Allah (swt) yang semoga akan menghapuskan semua dosa kisa kepada-Nya dan melimpahkan rahmat-Nya ke atas kita semua. Aamiin.
Dalam kesempatan ini khatib ingin mengajak hadirin sekalian untuk mulai memikirkan interaksi kita dengan masyarakat setempat mengenai hal-hal yang merupakan persamaan dalam ajaran agama Islam dan agama Kristen.
Dalam hubungan antara kedua agama ini, perekat dan pemisahnya sekaligus adalah tokoh yang dalam Islam dikenal sebagai “Isa ibn Maryam (as) atau ‘Isa al-Masih, dan oleh Umat Kristen disebut Yesus Kristus.
Pemisahan paling besar pada hakikatnya adalah keyakinan Umat Kristen bahwa Yesus Kristus adalah “Anak Tuhan” dan merupakan bagian dari trinitas Bapa, Anak dan Rohul Kudus - suatu rumusan yang oleh banyak Umat Kristen dan bahkan para pakarnya pun sulit untuk dijabarkan secara logis. Namun, ini adalah urusan mereka.
Dalam Islam, sebagaimana yang sudah sangat jelas ditegaskan dalam Surat Al-Ikhlas: Allah (swt) tidak beranak dan tidak diperanakkan dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-NYa.
Dalam sejarah dan rekam jejaknya Rasulullah (saw) sendiri diriwayatkan mengenal banyak kaum Nasrani, sebelum wahi pertama diturunkan.
Dan dalam Al Qur’an pun, ada ayat-ayat berkenaan dengan Nabi ‘Isa (as), bahkan salah satu Surat - yang ke-19 - dalam Kitab Suci itu, dinamai “Maryam” - ibunda Nabi ‘Isa (as).
Dalam perjalanan sejarahnya, sebagian Umat Islam pelopor, pernah berhutang budi kepada penguasa Kristiani.
Ada cendikiawan Muslim yang bahkan menyimpulkan bahwa Islam yang masih merupakan tunas di kala itu, berhasil diselamatkan dari “kehancuran” berkat pertolongan seorang raja Kristiani.
Sekitar 600 tahun setelah kelahiran Yesus Kristus, Islam diturunkan di kota Mekkah - kota yang diisi oleh mereka yang dikatakan belum beradab. Di mana koneksi merupakan hal yang sangat menentukan; di mana yang kaya dan berkuasa menzalimi dengan seenaknya yang miskin, papa dan dha’if.
Anak perempuan yang dilahirkan oleh isteri ditanam, bahkan terkadang hidup-hidup, karena sang suami hanya menginginkan anak lelaki. Kemiskinan dan kebuta-hurufan sudah lumrah. Agama boleh dikatakan sama sekali tidak begitu dipedulikan. Masyarakat menyembah macam-macam berhala. Pesan-pesan dan ajaran yang dibawa oleh Nabi ‘Isa (as) waktu itu belum dihayati dan diyakini, dan kalau pun sampai terdengar oleh mereka, niscaya tidak bakalan ada pengaruhnya.
Begitulah, abad ke-7 di Arabia waktu itu sama saja sepeti kehidupan dengan hukum rimba.
Tampillah seorang Muhammad ibn Abdallah (saw) yang dipercayakan mengemban peran sebagai pencerah umat manusia. Keadilan merupakan salah satu tiang utama; kasih sayang antara sesama umat merupakan sendi-sendi masyarakat; agama bukan upacara semata, melainkan pegangan dan pedoman hidup dan kehidupan.
Muhammad (saw) tampil dan mengumandangkan ada hanya satu Tuhan - Allah (swt). Pengumandangan ini merupakan ancaman langsung terhadap uncang para petinggi di Mekkah, yang sebelumnya begitu makmur berkat kunjungan banyak warga asing dari Arabia ke Mekkah untuk beribadah di Ka’bah, yang dihiasi dengan berbagai berhala. Jelas, ziarah mereka itu berarti uang masuk dan ajaran yang dibawa Rasulullah (saw) bahwa segala berhala itu adalah benda mati buatan manusia, dianggap sebagai kelewang yang terhunus ke jantung sumber penghasilan mereka.
Tidak mengherankan bahwa para pengikut awal Rasulullah (saw) adalah orang-orang yang miskin dan dha’if, yang sama sekali tidak menikmati sesuatu perlindungan dari kekejaman dan kezaliman kelompok masyarakat yang hidup dengan privilese - keistimewaan-keistimewaan
Kezaliman kaum Jahiliah kian menjadi-jadi dan Umat Islam pelopor itu ada yang dihabisi begitu saja. Mereka harus menghindar kalau ingin selamat.
Kita selama ini lebih mengenal hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah (saw) bersama sahabat yang kemudian menjadi mertua dan Khalifah pertama, Sayyidina Abu Bakar Siddiq (ra), yang terjadi dalam tahun Miladi 622.
Namun, sebenarnya, itu bukanlah hijrah yang pertama.
Pada tahun 615 Miladi, 5 tahun sejak Rasulullah (saw) menerima wahi melalui Jibril (as), penzaliman terhadap Umat Islam pelopor itu sudah menjadi persoalan hidup dan mati. Seorang Muslimah, bernama Sumayya dapat dikatakan adalah syuhadah pertama dalam sejarah Islam. Ia dibunuh di depan umum oleh seorang pemimpin suku di Mekkah. Muslim-muslim yang paling tidak berdaya, seperti budak asal Afrika, Bilal, sering mengalami penyiksaan.
Para pemimpin Jahiliah waktu itu melakukan pertemuan untuk menyepakati pelarangan jual-beli dengan kaum Muslim pelopor - artinya kalangan Jahiliah lainnya dilarang memberikan atau menjual makanan dan obat-obatan kepada para Muslim.
Menghadapi ancaman bahaya yang sangat nyata ini, sekelompok Muslim pelopor, dipimpin salah seorang putri Rasulullah, Ruqayyah dan suaminya - menantu Rasulullah (saw) Utsman bin Affan (ra), berhasil menghindari patroli kaum Jahiliah dan mencapai pesisir Laut Merah dan kemudian menyeberang ke Abyssinia atau Ethiopia, dengan perahu.
Waktu itu, perdagangan dengan Afrika, termasuk Abyssinia, merupakan salah satu sumber pemasukan bagi kaum Jahiliah.
Kaum Muslim pelopor itu berniat mencari perlindungan dari Raja Abyssinia, seorang Kristen, yang dikenal sangat adil.
Ketika mengetahui bahwa sejumlah Muslim pelopor telah melarikan diri ke Abyssinia, kaum Jahiliah sangat marah karena menduga dapat mengganggu hubungan mereka dengan negara Afrika yang waktu itu sangat terpandang di benua tersebut.
Kaum Jahiliah memutuskan untuk mengutus seorang saudagar yang disegani, Amr ibn Al-’As, yang juga kenal dengan Raja Abyssinia, untuk meminta agar para Muslim pencari suaka itu dikembalikan ke Mekkah, sebelum mereka dapat meyakinkan Raja Abyssinia tentang kekejaman dan kezaliman kaum Jahiliah Mekkah.
Amr ibn Al-’As tiba di Abyssinia dengan membawa banyak hadiah bernilai tinggi untuk Raja. Kemudian, Amr memberi-tahukan kepada Raja bahwa Muslim pelopor tersebut pada hakikatnya adalah penjahat dan meminta agar mereka dikembalikan ke Mekkah.
Raja Abyssinia itu khawatir bahwa ia akan dituding melindungi penjahat, sedangkan ia begitu teguh menjalankan keadilan.
Raja menyuruh agar para Muslim pelopor itu dihadapkan kepadanya untuk dimintai keterangan, dan apabila keterangan mereka tidak berkenan di hati baginda, maka mereka akan diserahkan kepada Amr ibn Al-’As dan anak buahnya dan besar kemungkinan mereka tidak akan sampai ke Mekkah dalam keadaan hidup - sangat boleh jadi mereka akan disembelih di tengah laut dan mayatnya dilemparkan untuk makanan ikan.
Ketika para Muslim itu mengisahkan bahwa mereka mencari suaka karena tidak tahan dizalimi disebabkan oleh agama baru yang mereka peluk, Raja Abyssinia meminta agar seluk beluk agama itu dijelaskan kepadanya. Sepupu Rasulullah (saw) Ja’far, yang dikenal sangat mampu berbicara didaulat agar menguraikan tentang agama Islam.
Jafar memaparkan latar belakang mereka, sebagai penyembah berhala yang tidak mengenal keadilan dan peri kemanusiaan. Namun kemudian Allah (swt) mengutus hamba-Nya Muhammad (saw) dengan agama Islam, agama tauhid yang menolak segala berhala; menyuruh pemeluknya berkata jujur, berbuat adil, memenuhi janji, saling menyayangi dan menghormati hak orang lain dan melarang berbuat kejahatan dan menumpahkan darah.
Karena memeluk agama itulah mereka digencet dan dizalimi oleh kaum Jahiliah hingga akhirnya terpaksa mencari suaka ke Abyssinia.
Raja Abyssinia itu, seorang Kristen yang ta’at, mulai tertarik dan menanyakan apakah ada firman-firman yang telah diturunkan yang sesuai dengan yang pernah disampaikan kepada Nabi ‘Isa (as).
Ja’far mengatakan ada dan Raja kemudian meminta agar beberapa firman dilantunkan di depannya. Ja’far melantunkan ayat-ayat mengenai Nabi ‘Isa (as), seperti yang terdapat dalam Surat Maryam - khususnya ayat-ayat 16 s/d 21, mengenai kelahiran ‘Isa (as).
Amr ibn Al-’As yang mengetahui bahwa dalam Islam ‘Isa hanyalah Rasul dan bukan Tuhan, dengan cepat mencoba untuk menciptakan keretakan antara Raja Abyssinia itu dengan para Muslim pelopor.
Ia mengatakan “Itu semua adalah dusta besar mengenai ‘Isa ibn Maryam. Umat Islam menyebutnya sebagai hamba.”
Raja gempar dan meminta jawaban dari Ja’far yang tidak kuasa berbuat lain kecuali menyatakan yang sebenarnya - Yesus dalam Islam adalah hamba Allah, Rasul-Nya dan Ruh-Nya, Kalam-Nya.
Raja Abyssinia tersenyum dan mengatakan itu hanyalah perbedaan semantik.
Waktu itu, di kalangan Umat Kristen sendiri memang telah berkecamuk silang sengketa mengenai ajaran agama itu, mengenai teologinya, dan Raja Abyssinia itu sudah lelah dengan segala sengketa itu dan tidak ingin tercebur ke dalam sengketa baru dengan Umat Islam.
Yang terpenting baginya adalah bahwa para pencari suaka tersebut memuliakan Nabi ‘Isa (as).
Lalu Raja mengatakan “Tinggallah di sini, kami tidak akan menyerahkan kamu biar pun diimbali dengan segunung emas. Raja kemudian menyuruh bawahannya mengembalikan segala hadiah yang dibawa Amr ibn Al-’As.
Pada saat itu Islam mendapatkan naungan amannya yang pertama. Di sebuah Tanah Kristen, di bawah perlindungan seorang Raja Kristen yang memandang Umat Islam sebagai saudara.
Memang, sejarah hubungan antara Umat Kristen dan Umat Islam tidak selamanya semesra itu.
Dari mulai Perang Salib hingga peristiwa 11 September 2001 di Amerika, kedua belah pihak telah saling melakukan banyak hal yang tidak terpuji.
Sidang Jum’at yang dimuliakan Allah (swt).
Lalu, apakah ada ajaran-ajaran dari Nabi ‘Isa (as) yang dapat dijadikan pedoman bagi Umat Islam?
Tentu saja banyak - karena Injil yang diturunkan adalah juga dari Allah (swt).
Nabi ‘Isa diriwayatkan pernah memberikan contoh tentang bahaya keserakahan.
Diriwayatkan suatu hari Nabi ‘Isa (as) berjalan dengan seseorang yang mengaku ingin menjadi sahabat beliau.
Ketika tiba di dekat sebuah sungai mereka berhenti dan Nabi ‘Isa mengeluarkan 3 batang roti. Mereka memakan dua batang, dan Nabi ‘Isa kemudian pergi ke sungai itu untuk minum.
Sekembalinya dari sungai itu, Nabi ‘Isa mendapati roti yang tersisa sebatang lagi hilang dan menanyakan kepada sahabat barunya itu ke mana roti tadi lenyapnya, karena di tempat itu tidak ada orang lain.
Sahabat Nabi ‘Isa (as) mengatakan tidak tahu.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan, dan tiba-tiba bertemu dengan seekor rusa betina serta 2 anaknya. Nabi ‘Isa (as) memanggil salah seekor anak rusa itu, lalu disembelihnya, dipanggangnya dan mereka berdua pun memakan daging panggang. Setelah selesai makan Nabi ‘Isa (as) mengatakan kepada sisa anak rusa panggang itu agar bangkit kembali dengan seizin Allah.
Anak rusa itu bangkit dan kembali menyertai induknya. Lagi-lagi Nabi ‘Isa (as) bertanya kepada sahabat barunya itu “Siapa yang mengambil sebatang roti sisa makanan kita tadi?”
Kembali sahabatnya mengatakan tidak tahu.
Dalam lanjutan perjalanan itu, mereka sampai ke tepi sebuah danau dan Nabi ‘Isa (as) langsung memegang tangan sahabatnya itu dan mereka berdua berjalan di atas air. Setibanya di seberang Nabi ‘Isa (as) kembali bertanya “Demi Kekuatan yang telah memungkinkan kita berjalan di atas air, siapa yang mengambil roti tadi?”
Kembali dijawab “tidak tahu.”
Setelah beberapa waktu meneruskan perjalanan Nabi ‘Isa (as) berhenti dan membuat tumpukan pasir dan bersabda “Demi Allah, jadilah engkau emas”, dan tumpukan pasir itu pun berubah menjadi emas.
Setelah itu Nabi ‘Isa (as) membagi 3 tumpukan emas itu dan mengatakan “satu bagian untuk aku, satu bagian untuk engkau dan sebagian lagi untuk orang yang telah mengambil roti tadi.”
Langsung orang itu mengaku bahwa dialah yang telah mengambil roti tadi. Setelah pengakuan itu, Nabi ‘Isa (as) mengatakan “Ambillah semua emas ini untuk kamu.”
Nabi ‘Isa kemudian pergi meninggalkan sahabat barunya itu.
Tidak lama kemudian 2 orang lelaki mendatangi sahabat Nabi ‘Isa (as) itu dan langsung hendak merampok semua emas tadi dan membunuhnya.
Sahabat baru Nabi ‘Isa (as) itu menyarankan agar emas itu dibagi tiga saja dan salah seorang kemudian disuruh ke tempat terdekat untuk membeli makanan untuk ketiganya.
Yang disuruh membeli makanan itu, ketika dalam perjalanan berpikir: Untuk apa emas itu dibagi tiga. Lebih baik makanan itu aku racun hingga semua emas itu akan menjadi milikku.
Ini dilakukannya.
Sementara itu, kedua orang tadi, ketika menunggu makanan datang menyepakati untuk membunuh yang disuruh membeli makanan itu hingga emas tadi dapat dibagi dua dan bukan tiga.
Ketika yang membawa makanan tiba, ia langsung dibunuh, dan kedua orang tadi memakan apa yang telah dibeli orang yang sudah terbunuh itu, dan akhirnya mati karena racun.
Nabi ‘Isa kemudian kembali ke tempat kejadian dan mendapati ketiga orang itu sudah tidak lagi bernyawa dan mengatakan kepada para sahabatnya “Beginilah kadaan dunia, karenanya hati-hatilah.* Wallahu a’lam.
Sidang Jum’at yang dimuliakan Allah (swt).
Jumlah Umat islam dan Umat Kristen terbilang separuh drai umat manusia. Bayangkan kalau kedua umat ini bersatu dan bahu membahu tanpa harus mengorbankan aqidah masing-masing.
Dalam tahun 628 Miladi, sebuah perutusan dari Biara Santa Catherina, terletak di kaki Bukit Tursina – biara tertua di dunia – mendatangi Rasulullah (saw) di Madinah untuk meminta perlindungan.
Waktu itu Rasulullah (saw) mengeluarkan Piagam – berupa janji kepada Umat Kristen.
Janji kepada Biara Santa Christina itu berbunyi seperti berikut:
“Ini adalah pesan dari Muhammad ibn Abdullah, sebagai bentuk perjanjian kepada mereka yang memeluk agama Kristen, baik yang tinggal dekat maupun jauh, maka ketahuilah kami (Umat Islam) berada bersama mereka.
Sesungguhnya, aku, para pesuruh, pembantu dan pengikutku membela dan mempertahankan mereka, karena Umat Kristen adalah juga rakyatku; dan Demi Allah! Aku menentang segala yang tidak menyenangkan mereka.
Mereka tidak boleh dipaksa. Para hakim mereka tidak boleh disingkirkan dari jabatan mereka; para rahub mereka tidak boleh disingkirkan dari biara mereka. Tidak boleh ada seseorang yang menghancurkan rumah ibadah mereka, atau merusaknya, atau mengambil sesuatu drai dalamnya untuk dibawa ke rumah orang-orang Muslim.
Apabila ada yang mengambilnya, maka berarti mengganggu perjanjian dari Allah dan durhaka kepada Rasul-Nya. Sesungguhnyalah, mereka adalah sekutuku dan telah memperoleh piagam dariku yang menentang segala yang mereka tidak sukai.
Tidak boleh ada yang memaksa mereka untuk bepergian atau mewajibkan mereka untuk ikut bertempur. Umat Ilam-lah yang wajib bertempur demi mereka.
Apabila seorang perempuan Kristen menikah dengan seorang lelaki Muslim, maka itu haruslah dengan persetujuan sang perempuan. Dan perempuan Nasrani itu tidak boleh dilarang pergi ke gerejanya untuk beribadah. Gereja-gereja mereka harus dihormati. Umat Kristen tidak boleh dicegah ketika hendak memperbaiki gereja mereka.
Tidak boleh ada dalam bangsa Islam ini yang mendurhakai perjanjian ini sampai Hari Kiamat.