Khutbah Idul Fitri: MEMBANGUN KUALITAS KEBERAGAMAAN
By Suparto
Hadirin dan hadirat shalat Idul Fitri yang dirahmati oleh Allah SWT. Pada akhirnya perjalanan waktu menghadirkan hari indah ini dalam ruang kehidupan kita. Hari ini adalah hari kudus yang meniscayakan kesucian sebagai prestasi gemilang seusai kita melaksanakan ibadah puasa. Hari ini bagaikan hari wisuda bagi para mahasiswa setelah bergelut dengan berbagai karut marut ujian akademik selama kuliah. Hari ini pun merupakan hari kemenangan bagi kita setelah kita digembleng 29 hari untuk menjadi manusia paripurna. Muka-muka cerah bertabur dengan senyum indah mewarnai hari ini. Masing-masing kita merasa bangga bahwa kita sudah mampu mengalahkan sisi buruk dalam diri kita selama puasa. Kita bangga bahwa kita mampu menang dalam sebuah jihad terbesar untuk memerangi hawa nafsu; jihad melawan diri sendiri. Dan hari ini kita pun bangga bahwa seluruh dosa antar sesama seakan luruh dan luntur ketika kita larut dalam budaya maaf-memaafkan. Yakinlah ibadah puasa kita tak lagi punya makna andai kita masih menyimpan gumpal dendam dalam sanubari kita terhadap sesama. Rasul mengatakan: “barang siapa yang belum mau memaafkan musuhnya, maka dia belum bertaubat”.
Ramadhan yang penuh kemuliaan, rahmat, dan maghfirah Tuhan seolah-olah baru sekejap kita nikmati bersama. Ramadhan begitu cepat berlalu ditelan gelombang waktu. Belum hilang dari benak memori kita kesyahduan Ramadhan yang membawa kita kepada sebuah atmofir kebersamaan dan atmosfir mengenal watak diri sendiri. Kita patut bersedih apabila dalam Ramadhan kemarin kita malah biarkan momen-momen penting dalam Ramadhan berlalu begitu saja tanpa peningkatan keimanan dan ketakwaan. Ramadhan bagaikan rumah spiritual yang membutuhkan hiasan amal kebajikan. Kita patut menyesali kebangkrutan diri ketika kita cenderung melewati Ramadhan hanya dengan pemahaman bahwa puasa hanyalah formalitas keagamaan belaka. Walhasil, esensi perubahan dalam diri kita untuk menjadi baik terabaikan begitu saja.
Sesungguhnya melaksanakan puasa itu jauh lebih mudah dibanding menerjemahkan puasa ke dalam watak sosial kita. Hal ini karena puasa sebagai proses dan muttaqun sebagai produk adalah entitas yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Puasa merupakan ibadah yang sangat personal karena hanya dia dan Tuhannya yang tahu tentang puasanya. Menariknya, ibadah personal ini, secara simbolis, diakhiri dengan pemberian zakat fitrah kepada mereka yang membutuhkannya sebagai bentuk penyucian diri dan kedermawanan. Bahkan bagi mereka yang berat untuk melaksanakan puasa diberi kelonggoran untuk membayar fidyah kepada para fakir-miskin. Dalam bulan Ramadhan, bagi yang mampu pun disunahkan untuk memberikan buka bagi yang berpuasa agar ada sebaran kebaikan di muka bumi ini. Mengapa ibadah yang sangat personal ini memiliki buah yang sangat sosial, yakni kerelaan untuk memberi dan berbagi?. Inilah penerjamahan praksis atas ibadah kita secara arif. Rasul berkata, “kullu ma’rufin shadaqah.”(al-Bukhari) setiap perbuatan baik adalah sedekah.
Allahu akbar…Allahu akbar…Allahu akbar walillaaahil hamd….
Setelah Ramadhan usai, maka kewajiban kita adalah mentransformasikan pesan puasa dalam kehidupan nyata, pesan berbagi dan bersatu. Oleh karena itu, kita harus mampu menjadikan momen Idul Fitri ini sebagai momen peningkatan keimanan dan ketakwaan yang lebih membumi. Kita harus membawa konsep ibadah ke dalam spektrum yang lebih luas melalui ethos hidup yang lebih bermakna dalam wadah tali persahabatan. Menjaga indahnya tali silaturahim akan mampu membuahkan kebermaknaan hidup kita, sebagaimana Rasulullah bersabda bahwa barang siapa yang ingin rizkinya diluaskan dan dipanjangkan umurnya, maka dia harus menjaga tali silaturahim (al-Bukhori). Di samping itu, kita harus membangun paradigma hidup yang visioner dan futuristik yang mampu mewariskan nilai-nilai imani bagi kita, saudara-saudara kita dan anak-anak kita, sebagaimana Allah pesankan dalam Surah Al-Hasyr 59: 18):
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Ibadah kita bukanlah ibadah sesaat yang bersifat lokalitas, formalitas, karikatif, dan reaktif semu. Pembaruan iman dan ketakwaan tidak cukup disimbolkan melalui meriahnya acara Idul Fitri dan baju indah yang kita kenakan hari ini. Kita tidak ingin begitu Ramadhan usai dan perhelatan Idul Fitri selesai, kita kemballi lagi menjadi makhluk-Nya yang naïf dan tak tahu diri. Kita tidak ingin bahwa kita selalu terjebak pada keberagamaan yang formalitas dan simbolik. Dan Ramadhan demi Ramadhan pun akan sia-sia dihadirkan kepada kita jika tidak ada secuilpun perbaikan, pembaruan, dan peningkatan keberagamaan kita yang lebih mempribadi dan membumi. Wallahu a’lam bi al-shawaab.
——————————————————————————–
Khuthbah Idul Fitri 1 Syawal 1430H/ 20 September 2009 di Sport Hall (Multi Purpose) Westall Secondary College , Rosebank Avenue .