Hiperbilirubinemia (Ikterik)
Oleh : Bu Ika
Sesungguhnya hiperbilirubinemia merupakan keadaan normal pada bayi baru lahir selama minggu pertama, karena belum sempurnanya metabolisme bilirubin bayi. Ditemukan sekitar 25-50% bayi normal dengan kedaan hiperbilirubinemia.
Penyebab
Sel-sel darah merah yang telah tua dan rusak akan dipecah/dihidrolisis menjadi bilirubin (pigmen warna kuning), yang oleh hati akan dimetabolisme dan dibuang melalui feses. Di dalam usus juga terdapat banyak bakteri yang mampu mengubah bilirubin sehingga mudah dikeluarkan bersama feses.Hal ini terjadi secara normal pada orang dewasa. Pada bayi baru lahir, jumlah bakteri pemetabolisme bilirubin ini masih belum mencukupi sehingga ditemukan bilirubin yang masih beredar dalam tubuh tidak dibuang bersama feses. Begitu pula dalam usus bayi terdapat enzim glukoronil transferase yang mampu mengubah bilirubin dan menyerap kembali bilirubin ke dalam darah sehingga makin memperparah akumulasi bilirubin dalam badannya. Akibatnya pigmen tersebut akan disimpan di bawah kulit, sehingga jadilah kulit bayi kuning. Biasanya dimulai dari wajah, dada, tungkai dan kaki menjadi kuning.
Ikterus fisiologis/normal
- terjadi pada hari ke 2 dan 3
- kadar bilirubin indirek selama 2×24 jam tidak melebihi 15mg% (bagi bayi lahir kurang bulan tdk lebih 10mg%)
- kadar bilirubin direk kurang dari 1mg%
- ikterus hilang pada hari ke 10
Bila ternyata keadaan parameter yang disebutkan tidak terpenuhi maka bayi dinyatakan menderita ikterus patologis/hiperbilirubinemia.
Akibat
Pada beberapa kasus, di minggu pertama, bayi akan segera normal kembali. Namun sangat mungkin juga terjadi keadaan ikterik yang lebih parah yang disebut Kernikterus, yakni terjadinya penimbunan bilirubin dalam otak sehingga mengakibatkan kerusakan otak. Gejala yang bisa diamati :
- bayi mengantuk terus
- tidak mau menghisap ASI
- muntah
- posisi tubuh bayi melengkung
- mata berputar-putar
- kejang
Jika keadaan telah parah maka akan terjadi kelumpuhan cerebral, tuli dan kelainan mata, keterbelakangan mental hingga kematian.
Biasanya bayi dijemur sekitar 1 jam di pagi hari saat sinar matahari belum terlalu tinggi intensitasnya. Mata dan alat reproduksi harus ditutup dengan kain yang memantulkan sinar agar tidak menimbulkan gangguan di kedua organ tsb. Jika keadaan parah, maka dibutuhkan pertolongan RS. Di Rs akan dilakukan penyinaran tertentu (sinar biru dengan intensitas tertentu).
Pemberian ASI harus sering dilakukan untuk mencegah dehidrasi dan mempermudah pembuanagn bilirubin ke fese. Setidaknya ASi harus diberikan tiap 3 jam. Jika bayi sulit menghisap, dilakukan pemompaan ASI, baru diberikan kepada bayi. Pemberian cairan selain ASI (missal air, air gula, dll) tidak akan membantu. jadi kunci utama adalah pemberian ASI.