Archive for July, 2008

Selamat kepada Sdr. Haryanto, Ketua MIIS yang baru.

Monday, July 14th, 2008

Ass.Wr.Wb

Bersama ini kami sampaikan bahwa Forum pada saat kegiatan Farewell MIIS tanggal 12  July 2008 telah memilih rekan Haryanto (Januari 2008), student pada program Master Banking and Finance, sebagai Ketua MIIS yang baru.

Selamat menjalankan tugas baru ini Pak Haryanto, semoga manfaat berkat maslahah. Mari kita dukung program-program P.Haryanto kedepan demi semakin makmurnya silaturahmi antara kita semua,amien.

Wass.Wr. Wb,
MIIS 2007-2008

Hiperbilirubinemia (Ikterik)

Sunday, July 13th, 2008

Oleh : Bu Ika

Hiperbilirubinemia adalah kondisi dimana terdapat kadar bilirubin yang tinggi dalam darah. Biasanya terjadi pada bayi baru lahir.

Sesungguhnya hiperbilirubinemia merupakan keadaan normal pada bayi baru lahir selama minggu pertama, karena belum sempurnanya metabolisme bilirubin bayi. Ditemukan sekitar 25-50% bayi normal dengan kedaan hiperbilirubinemia.


Penyebab

Sel-sel darah merah yang telah tua dan rusak akan dipecah/dihidrolisis menjadi bilirubin (pigmen warna kuning), yang oleh hati akan dimetabolisme dan dibuang melalui feses. Di dalam usus juga terdapat banyak bakteri yang mampu mengubah bilirubin sehingga mudah dikeluarkan bersama feses.Hal ini terjadi secara normal pada orang dewasa. Pada bayi baru lahir, jumlah bakteri pemetabolisme bilirubin ini masih belum mencukupi sehingga ditemukan bilirubin yang masih beredar dalam tubuh tidak dibuang bersama feses. Begitu pula dalam usus bayi terdapat enzim glukoronil transferase yang mampu mengubah bilirubin dan menyerap kembali bilirubin ke dalam darah sehingga makin memperparah akumulasi bilirubin dalam badannya. Akibatnya pigmen tersebut akan disimpan di bawah kulit, sehingga jadilah kulit bayi kuning. Biasanya dimulai dari wajah, dada, tungkai dan kaki menjadi kuning.


Ikterus fisiologis/normal

  • terjadi pada hari ke 2 dan 3
  • kadar bilirubin indirek selama 2×24 jam tidak melebihi 15mg% (bagi bayi lahir kurang bulan tdk lebih 10mg%)
  • kadar bilirubin direk kurang dari 1mg%
  • ikterus hilang pada hari ke 10

Bila ternyata keadaan parameter yang disebutkan tidak terpenuhi maka bayi dinyatakan menderita ikterus patologis/hiperbilirubinemia.


Akibat

Pada beberapa kasus, di minggu pertama, bayi akan segera normal kembali. Namun sangat mungkin juga terjadi keadaan ikterik yang lebih parah yang disebut Kernikterus, yakni terjadinya penimbunan bilirubin dalam otak sehingga mengakibatkan kerusakan otak. Gejala yang bisa diamati :

  • bayi mengantuk terus
  • tidak mau menghisap ASI
  • muntah
  • posisi tubuh bayi melengkung
  • mata berputar-putar
  • kejang

Jika keadaan telah parah maka akan terjadi kelumpuhan cerebral, tuli dan kelainan mata, keterbelakangan mental hingga kematian.

Terapi

Biasanya bayi dijemur sekitar 1 jam di pagi hari saat sinar matahari belum terlalu tinggi intensitasnya. Mata dan alat reproduksi harus ditutup dengan kain yang memantulkan sinar agar tidak menimbulkan gangguan di kedua organ tsb. Jika keadaan parah, maka dibutuhkan pertolongan RS. Di Rs akan dilakukan penyinaran tertentu (sinar biru dengan intensitas tertentu).

Pemberian ASI harus sering dilakukan untuk mencegah dehidrasi dan mempermudah pembuanagn bilirubin ke fese. Setidaknya ASi harus diberikan tiap 3 jam. Jika bayi sulit menghisap, dilakukan pemompaan ASI, baru diberikan kepada bayi. Pemberian cairan selain ASI (missal air, air gula, dll) tidak akan membantu. jadi kunci utama adalah pemberian ASI.

MIIS Snow Trip 2008

Friday, July 4th, 2008

MIIS (Monash Indonesian Islamic Society) presenting Mt. Buller Winter Tour 2008

(image courtesy of www.mtbuller.com.au

Schedule

Depart

7.00 am

Monash CLAYTON campus - Robert Blackwood Hall bus parking area

Return

7.00 pm

 

Please note: We will not wait for those who are late, please be at pick up point 15 minutes prior to departure, thank you…

Included:
• Transport
Gate entry fees
(* Lunch & equipment hire at own expense)

What to bring for this trip?
- Warm clothing
- Extra pairs of socks and clothes!
- Spending money for lunch
- CAMERA
- Sense of fun & adventure!!

( image courtesy of www.mtbulller.com.au)

Benarkah Coklat memicu Migren?

Tuesday, July 1st, 2008

by: bu Ika

 

Migren adalah sakit kepala yang sering terjadi berulang. Lima puluh persen penderita migren mengalami episode berulangnya migren sekali setiap bulan. Migren dikaitkan dengan beberapa bahan makanan yang diyakini sebagai pemicu, salah satunya coklat. Menurut International Headache Society (HIS) migren yang disebabkan oleh makanan disebut sebagai dietary migraine, haruslah memenuhi beberapa criteria jika benar-benar disebabkan oleh bahan makanan. Berikut criteria untuk menilai dietary migraine :

  • migren terjadi pada waktu yang tertentu setelah konsumsi bahan bersangkutan
  • dapat dipastikan dosis minimum bahan makanan yang menyebabkan migren muncul
  • migren terjadi paling sedikit pada 50% masuknya bahan makanan
  • saat bahan makanan tidak dikonsumsi, bisa dipastikan migren akan hilang

 
Dietary migraine muncul sejak tahun 1712 saat seorang dokter John Fothergill mendiagnosis dirinya sendiri mengalami serangan migren saat mengkonsumsi coklat. Sejak saat itu seakan melekat bahwa coklat adalah biang kerok pemicu migren.Pada tahun 1925 Curtis-Brown mengemukakan teori migren yang disebabkan protein, salah satu bahan yang masuk dalam teorinya adalah coklat.bahkan di tahun 1982 saat diadakan Annual meeting dari American Association for the Study of Headache (AASH) mengagendakan hubungan antara makanan dengan migren. Pertemuan ini menginisiasi dilakukannya penelitian tentang kaitan coklat dengan migren. Blau dan Diamond melakukan penelitian di UK, sementara ilmuwan lainnya seperti Marcus, Moffet dan Gib melakukannya secara terpisah di Amerika.

 

Senyawa yang diduga memicu migren

Secara umum dinyatakan bahwa senyawa amin yang aktif bekerja pada pembuluh darah seperti serotonin (5HT) dan norepinefrin (NE) yang terkandung dalam beberapa bahan makanan dipercaya menginduksi munculnya sakit kepala termasuk migren. Senyawa-senyawa ini diduga baik secara langsung maupun tidak langsung memicu sakit kepala. secara langsung, senyawa amin mampu mengubah pembuluh darah, dan secara tidak langsung memicu pelepasan epinefrin (EP) yang mampu mengubah pembuluh darah. Selain itu banyak senyawa amin baru ditemukan yang diyakini terkait migren yakni tyramin (TYR), histamine (His) dan beta-feniletilamin (PEA). PEA dimetabolisme oleh enzim monoamine oksidase (MAO), diduga adanya defisiensi dari MAO akan memicu migren.Diduga coklat memiliki kandungan TYR dan PEA yang tinggi.

 

Hasil penelitian

Baik penelitian di UK maupun Amerika menggunakan sukarelawan baik penderita maupun non penderita migren yang diberi coklat dan placebo. Rancangan penelitian yang digunakan adalah double blind dimana baik responden maupun peneliti tidak tahu mana yang coklat dan mana yang placebo. Setelah para responden ngemil coklat atau placebo, mereka diharuskan mengisi kuesioner tentang migren didasarkan pada criteria dari IHS. Waktu terjadinya serangan migren dibatasi dalam kurun waktu tidak lebih dari 22 jam. Penelitian yang besar ini menghasilkan kesimpulan bahwa ternyata baik responden yang mengkonsumsi coklat dan placebo sama-sama mengalami serangan migren dengan persentase yang sama sekitar 50%. Lebih jauh, pada coklat dilakukan penelusuran lebih lanjut besarnya kandungan TYR dan PEA. Lebih mengangetkan, dalam coklat tidak ditemukan kadar TYR dan PEA yang tinggi walaupun telah dilakukan penelitian kandungan kedua senyawa ini pada berbagai jenis coklat dan produk olahannya.

 

Penelusuran lebih dalam, menyimpulkan dari para responden yang mengalami migren, factor hormonal dan stress malah menjadi salah satu pemicu migren yang kuat dibandingkan dengan konsumsi coklat. Selain itu data riwayat keluarga ditemukan adanya kaitan genetic dari para orang tua responden. Akhirnya factor hormonal, stress dan genetic menjadi factor resiko munculnya migren. Hingga kini coklat belum terbukti memicu migren.

 

Kesimpulan

Jikalau seorang individu mendapat serangan migren setelah makan coklat, kemungkinan besar ada factor hormonal, stress atau genetic yang jauh lebih memegang andil memicu migren, daripada sekedar factor makan coklat.

INFLUENZA, Common Cold dan Infeksi H.influenzae

Tuesday, July 1st, 2008

By : Bu Ika

 

Di Negara maju sudah dilakukan vaksinasi influenza. Kita bertanya-tanya apakah begitu beratnya influenza di Negara maju sehingga perlu dilakukan imunisasi. Samakah influenza disini dengan apa yang selama ini kita sebut influenza atau flu di Negara kita yang tropis ? Apa lagi ada imunisasi Hib di sini, apa bedanya?


Istilah yang saling mengacaukan
Influenza yang popular dengan nama flu adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Orthomyxoviridae yang merupakan RNA virus (influenza virus) yang mampu menyerang infeksi pada hewan mamalia dan juga keluarga burung (jenis A, B dan C, namun A lebih dominant). Nama influenza berasal dari bahasa Latin influential yang berarti pengaruh. Penyakit ini menyerang saluran nafas bagian bawah.

Influenza

Gb. Influenza virus

Sementara apa yg dianggap sebagai flu di Negara tropis adalah common cold atau infeksi akut nasofaring (saluran nafas atas) yang disebabkan virus, tepatnya picornavirus, rhinovirus atau coronavirus. Setidaknya ada 100 jenis virus penyebab common cold ini. Penyakit ini akan sembuh dengan sendirinya karena virus-virus ini adalah self limiting artinya akan mati dengan sendirinya bila masa inkubasi telah berakhir.

 

RhinoVirus

Gb. Human rhinovirus

 

 

Satu lagi penyakit yang dikacaukan dengan influenza adalah infeksi oleh bakteri Hemophilus influenzae yang menyebabkan tidak saja sinusitis, namun lebih parah menyebabkan peradangan telinga, mata dan paru-paru. Infeksi ini adalah penyebab utama penyakit infeksi saluran nafas bagian bawah. Jenis bakteri antara lain tipe a,b,c,d,e, dan f. namun yang paling umum adalah tipe b.

 

Hemopilus

Gb. Bakteri Hemophilus influenzae

 

Manifestasi klinis infeksi

Gejala

Influenza

Common cold

H.influenzae

batuk

ya

ya

tidak

bersin

ya

ya

ya

Sumbatan hidung

ya

ya

ya

Sakit kepala

ya

ya

ya

Nyeri tenggorokan

ya

ya

tidak

Rasa lemas

ya

ya

tidak

Nyeri di joint tulang

ya

ya

ya

Hidung meler

tidak

ya

tidak

Panas (>38ºC)

ya

Tidak, hanya demam (<38ºC)

ya

Iritasi mata

ya

tidak

ya

Menggigil

ya

tidak

tidak

Nyeri perut

ya

tidak

tidak

Sesak nafas

Ya bila masuk tahap lanjut

tidak

ya

Nyeri telinga

tidak

Hanya berdengung

ya

Penyakit lanjutan

Pneumonia, kematian

-

Sinusitis, otitis, pneumonia, meningitis, kematian

Jadi yang harus dipastikan adalah panas yang dirasakan penderita. Tanpa dilakukan pengukuran dengan thermometer, tidak dapat dipastikan apakah ini common cold saja atau benar-benar influenza atau infeksi bakteri H. influenzae.

Hidung meler jelas mengindikasikan hanya common cold saja. Tetapi jika terjadi sumbatan hidung sangat lama, maka jelas kea rah infeksi H.influenzae.

Menggigil di saat panas mirip malaria mengindikasikan terjadi infeksi influenza yang sesungguhnya.

Terjadinya sesak nafas pada individu yang tidak memiliki riwayat asma, maka akan mengarahkan kepada influenzae atau H.influenzae infeksi.

Pencegahan dan terapi

Karena ketiga jenis infeksi ini disebabkan mikroorganisme yang terdapat di lingkungan, maka cuci tangan dengan sabun adalah upaya memutus rantai penularan selain menutup mulut dan hidung saat bersin karena penularan ketiganya melalui titik-titik udara yang dikeluarkan saat bersin.

Selain itu upaya imunisasi bisa dilakukan untuk pencegahan influenza dan infeksi H.influenzae. Terapi bisa dilakukan simtomatis dan kuratif. Pada common cold upaya dilakukan adalah terapi simtomatis atau mengobati gejala yang dirasakan, karena virus akan mati dengan sendirinya, tidak membutuhkan antivirus. Pada influenza selain terapi simtomatis juga dilakukan terapi kuratif memberantas virus penyebab. Begitu pula pada infeksi H.influenzae terapi simtomatis dan pemberian antibiotic diberikan sebagai upaya kuratif.

Vaksin dan terapi

Upaya

Influenza

Common cold

H.influenzae

Vaksinasi

FluMist, Pandemix, FluZone, Sanofi Pasteur, trivalent vaccine WHO, CSL

Tidak ada vaksin

Hib or PRP vaccine, combination vaccine DTP polio plus Hib.

Program nasional

bukan

-

Ya (bayi umur 2-6 bulan)

Terapi simtomatis

parasetamol

Pseudoefedrin, fenilpropanolamin, parasetamol

Parasetamol, antialergi, antiradang mata atau telinga

Terapi kuratif

Antivirus:Oseltamivir (Tamiflu), zanamir (Relenza), amantadine, rimantadine

Tidak ada

Antibiotik:Cefotaksim, ceftriakson, rifampisin

Pandemik Influenza

Hampir semua kasus terjadinya kejadian luar biasa influenza disebabkan oleh influenza virus jenis A yang memiliki kekhasan hemaglutinin (HA) dan neuroaminidase (NA). Terjadinya pandemic influenza telah dimulai tahun 1889-90 di Rusia. Berikut perjalanan pandemic influenza di seluruh dunia :

Influenza/Flu

Negara

Tahun

H2N2

Rusia

1889-90

H1N1

Spanyol

1918-20

H2N2

Asia

1957-58

H3N2

Hongkong

1968-69

H5N1

Asia, beberapa belahan bumi

2007-08

Pengaruh musim

Influenza merebak saat winter baik di bumi belahan Selatan maupun Utara. Jadi selama 1 tahun ada 2 winter di mana terjadi peningkatan kasus influenza. Di Negara tropis terjadi di musim penghujan. Di Negara dengan suhu udara dingin dan kelembaban udara rendah memudahkan pembiakan virus influenza. Pernah ada seorang ilmuwan Robert Edgar Hope-Simpson yang menduga adanya kaitan terjadinya influenza dengan rendahnya kadar vitamin D. Di Negara 4 musim saat winter pancaran sinar matahari sangat rendah dan orang cenderung tinggal di dalam ruang menghindari hawa dingin, sehingga kadar vitamin D sangat rendah. Sementara di Negara tropis saat musim hujan orang juga malas keluar rumah, sehingga kurang terpapar sinar matahari yang dibutuhkan untuk sintesis vitamin D di bawah kulit.

Hidup berdampingan dengan ROTAVIRUS

Tuesday, July 1st, 2008

By : ibuke Nisa

 

Rotavirus

Winter di negara 4 musim identik dengan kemunculan virus-virus antara lain rotavirus penyebab diare pada balita. Panas, muntah adalah awal terjadinya infeksi rotavirus.

Sebelum tahun 1970an, setiap kasus diare terjadi dokter selalu menganggap penyebabnya adalah bakteri. adanya penemuan antibiotic ternyata tidak mampu menurunkan angka kematian bayi dan balita akibat diare di seluruh dunia masa itu. Mulailah para ilmuwan mencoba menemukan apa sebenarnya mikroorganisme penyebab diare tersebut. sesungguhnya di tahun 1943 Jacob Light dan Horace Hodes secara tak sengaja menemukan suatu material yang tersaring dari feses anak-anak yang terserang diare, yang saat itu juga menyebabkan diare pada ternak. Barulah pada tahun 1973 ilmuwan Australia menemukan mikroorganisme yang kemudian dikenal dengan nama Rotavirus, pada feses anak-anak penderita diare di Australia. Sejak itu, Ruth Bishop bekerja keras memberantas Rotavirus di Australia.

Barulah di tahun 1974 Thomas Henry Flewet mengusulkan nama virus penyebab diare ini : ROTAVIRUS, setelah melihat bentuk virus tsb berupa roda (Rota dalam bahasa Latin berarti roda), dan disetujui oleh komite taksonomi virus pada tahun 1978.Rotavirus serotype baru ditemukan pertama kali pada tahun 1980, setahun kemudian dapat ditumbuhkan rotavirus dari manusia pada media kultur sel, dan urutan RNAnya baru dipublikasikan secara penuh di Nature tahun 1995.


Infeksi Rotavirus di dunia

Pada tahun 2004 WHO melaporkan telah terjadi sebanyak 527.000 kematian balita karena diare rotavirus di seluruh dunia. Rotavirus A merupakan penyebab 90% terjadinya diare pada manusia. Rotavirus juga pernah dilaporkan menyebabkan kematian akibat diare pada hewan ternak seperti kambing, sapi, babi, ayam dan itik bahkan kelinci dan kuda. laporan terbaru menyebutkan setiap tahun di Negara berkembang terjadi 2 juta kasus diare balita karena rotavirus berakhir dengan 611.000 kematian balita. Bahkan di Negara maju seperti Amerika, tiap tahun terjadi setidaknya 2,7 juta diare rotavirus, berakhir dengan 60.000 penderita dirawat di rumah sakit dan 37 balita dilaporkan meninggal karenanya. Pada tahun 1981 terjadi kasus besar/kejadian luar biasa (KLB) diare rotavirus di Colorado akibat tercemarnya air dengan feses yang mengandung rotavirus. Di tahun 2005 terjadi lagi kasus KLB di banyak Negara. Berikut angka kematian akibat diare rotavirus di beberapa Negara di tahun 2006 dan 2007.

Negara

Angka kematian

Tahun pelaporan

Vietnam

1 dari 61 hingga 113 kasus

2006

Bangladesh

1 dari 390 hingga 660 kasus

2007

Venezuela

1 dari 1800 kasus

2007

Uni eropa

1 dari 20.433 kasus

2006

Amerika

1 dari 21.675 kasus

2007

Australia

1 dari 115.000 kasus

200

 

Bahaya Rotavirus
Rotavirus menyerang pemasakan endocytes pada vili usus halus, menyebabkan kerusakan pada vili usus tersebut sehingga menghambat proses pencernaan dan absorpsi sari makanan. Akibat tidak tercernanya dan tidak terserapnya sari makanan dan air oleh usus, maka terjadilah diare sangat encer. Selain itu rotavirus menyebabkan muntah dan panas (diatas 38ºC). Bahaya utama infeksi rotavirus adalah terjadinya dehidrasi dan shok hingga memudahkan terjadinya kematian. Dibanding dengan infeksi bakteri, infeksi rotavirus lebih berbahaya karena selalu dimulai dengan muntah yang memicu dehidrasi awal, diikuti dengan diare sangat encer dan sering memperparah dehidrasi selanjutnya.

Infeksi rotavirus terjadi setidaknya pada 3 bulan pertama usia bayi. di Negara berkembang dimana sanitasi buruk, 2 bulan pertama kehidupan bayi diwarnai dengan diare akibat rotavirus ini. Laporan WHO menyatakan ¾ anak di Negara berkembang pernah mengalami diare rotavirus ini di saat umurnya kurang dari 1 tahun. Sedangkan di Negara maju, biasanya rotavirus menyerang pada anak usia 2-5 tahun.

Waktu terjadinya

Winter adalah masa terbaik inkubasi rotavirus. Kasus infeksi rotavirus di Negara dengan 4 musim terjadi selama winter. Biasanya menyerang anak di childcare, anak usia sekolah dan para lansia di aged care. Di Negara tropis, sepanjang tahun dapat terjadi infeksi rotavirus ini.

Cara penularan

Penularan rotavirus yang utama melalui feses penderita yang masuk secara oral. Tangan yang terkontaminasi setelah BAB adalah sumber penularan utama. Selain itu muntahan penderita juga menjadi sumber penularan bagi anggota keluarga atau teman-teman childcare/sekolah. Juga bahan atau alat yang tercemar muntahan penderita perlu dicermati sebagai sumber penularan, maka harus dicuci bersih.

Obat

Tidak ada obat bagi diare rotavirus. Diare karena bakteri dapat diobati dengan antibiotic (contoh diare amuba dengan metronidazol, diare karena shigella diobati dengan cotrimoksasol, diare karena kolera diobati dengan tetrasiklin atau doksisiklin), sedangkan diare karena rotavirus tidak ada obat antivirus yang mampu mengobatinya. Oleh karena itu hal terpenting adalah melakukan pencegahan dengan imunisasi rotavirus pada anak berumur 2 hingga 6 bulan. Bila terlanjur terjadi diare rotavirus maka tindakan utama mencegah kematian adalah dengan memberikan upaya rehidrasi/penggantian cairan tubuh dan elektrolit baik secara oral maupun intravena. Kalau bayi masih minum ASI makan jangan hentikan pemberian ASI. oralit baik buatan pabrik maupun bikinan sendiri (larutan gula garam) merupakan cara ampuh menangkal kematian akibat diare rotavirus.

 

Vaksin rotavirus
Sejak tahun 1990an marak upaya pembuatan vaksin rotavirus. Salah satunya adalah RotaShield yang pernah diluncurkan di Amerika pada tahu 1990an. Namun di tahun 1999 vaksin tersebut ditarik dari pasar oleh FDA karena terbukti menimbulkan efek samping bowel sindrom berbahaya. Barulah di tahun 2004 diluncurkan human monovalen dan pentavalen vaksin rotavirus di Negara Amerika Latin, Uni Eropa, Amerika dan Australia yakni RotaRix (GlaxoSmithKline) dan RotaTeq (Merck). Namun WHO merasa belum merekomendasikan imunisasi ini di Negara berkembang mengingat akan tidak berhasil hanya mengandalkan imunisasi rotavirus sementara sanitasi sebagai sumber penularan utama diare rotavirus masih buruk.

Keamanan dan efikasi kedua macam vaksin yang diberikan secara oral tsb telah terbukti berkisar 74-85% berdasarkan clinical trial di negara Amerika Latin, Uni Eropa dan Amerika. Baik RotaRix maupun RotaTeq tidak mengandung bahan pengawet thimerosal yang diduga menjadi penyebab autisme pada balita.

Sejak Juli 2007 imunisasi rotavirus wajib diberikan pada bayi hingga umur 6 bulan bagi semua bayi yang lahir setelah Mei 2007 di seluruh Negara bagian di Australia.

Kabar terbaru yang membahagiakan dating dari Prof Ruth Bishop (Royal Children Hospital, Melbourne) yang bekerjasama dengan peneliti dari UGM yakni Prof Yati Soenarto yang pernah melakukan penelitian diare rotavirus di Yogyakarta, mulai tahun lalu menjajaki pembuatan vaksin rotavirus baru dengan PT Indofarma yang rencananya akan dipasarkan di Indonesia dan Negara Asia lainnya pada tahun 2011